
Crime-news.id ,KUPANG — Gisela Agustav pulang dari Jambore Nasional XII dengan pengalaman yang, menurut dia, sulit diperoleh dalam keseharian. Peserta dari Kwartir Cabang Gerakan Pramuka Kota Kupang itu mengaku senang meski harus menjalani rangkaian kegiatan yang melelahkan.
“Capek pasti, tapi senang sekali. Banyak pengalaman yang tidak bisa kami dapatkan kalau tidak ikut Jambore,” kata Gisela dalam acara penerimaan kontingen di Hotel Kristal, Kota Kupang, Selasa malam, 1 September 2026.
Gisela mengatakan para peserta bertemu dengan anggota Pramuka dari berbagai daerah. Selama kegiatan, mereka belajar mandiri, disiplin, bekerja sama, sekaligus menghadapi berbagai situasi baru.
Ia juga menyampaikan terima kasih kepada Wali Kota Kupang, dr. Christian Widodo, dan Pemerintah Kota Kupang yang mendukung kontingen sejak persiapan, keberangkatan hingga kepulangan.
“Terima kasih kepada Bapak Wali Kota dan Pemerintah Kota Kupang yang sudah mendukung kami dari keberangkatan sampai kembali ke Kota Kupang,” ujar dia.
Apresiasi serupa disampaikan perwakilan orang tua peserta, Jia Djawas. Ia mengaku sempat khawatir karena anak-anak harus pergi jauh dan dalam waktu cukup lama. Namun, kekhawatiran itu terbayar setelah para peserta kembali dengan selamat.
“Sebagai orang tua, kami sangat berterima kasih dan bangga karena anak-anak mendapat kesempatan mengikuti Jambore,” katanya.
Menurut Jia, nilai penting dari Jambore bukan sekadar perjalanan atau kenangan. Anak-anak, kata dia, pulang dengan pengalaman yang dapat membentuk karakter.
“Kami sangat mengapresiasi perhatian Pemerintah Kota Kupang. Yang paling penting anak-anak pulang tidak hanya membawa kenangan, tetapi juga membawa pengalaman dan karakter yang akan menjadi bekal bagi mereka,” ujar Jia.
Wali Kota Sambut Langsung
Wali Kota Kupang Christian Widodo hadir langsung menyambut kepulangan kontingen Jambore Daerah X dan Jambore Nasional XII Kwarcab Gerakan Pramuka Kota Kupang. Ia bahkan makan malam bersama peserta.
Christian mengatakan dukungan pemerintah terhadap kontingen tahun ini diberikan sejak sebelum keberangkatan hingga mereka kembali ke Kota Kupang.
“Rasa-rasanya ini dukungan Pemkot yang paling full tahun ini. Mau pergi kita lepas dengan makan bersama, pulang kita sambut dan makan bersama lagi,” kata Christian.
Dukungan itu antara lain terlihat dari keputusan Christian memberangkatkan seluruh 48 peserta yang mengikuti proses seleksi. Padahal, kuota awal kontingen hanya 32 orang.
Christian mengatakan keputusan itu diambil setelah menerima laporan bahwa 48 anak mengikuti tahapan seleksi dan menunjukkan semangat tinggi.
“Awalnya hanya 32 orang yang akan diberangkatkan. Tetapi setelah saya mendapat laporan bahwa peserta seleksi berjumlah 48 orang, saya memutuskan semuanya ikut,” ujarnya.
Menurut Christian, setiap anak berhak memperoleh kesempatan yang sama untuk belajar dan berkembang melalui kegiatan Pramuka.
Selain itu, Christian memberikan tambahan dana rekreasi secara pribadi sebesar Rp10 juta kepada peserta Jambore Nasional XII.
Jangan Berhenti di Jambore
Christian meminta para peserta tidak berhenti pada pengalaman selama Jambore. Nilai disiplin, tanggung jawab, ketangguhan dan kerja sama yang diperoleh selama kegiatan harus dibawa ke kehidupan sehari-hari.
“Jangan selesai hanya di Jambore. Apa yang kalian dapatkan tentang ketangguhan, disiplin dan mental, bawa terus dalam kehidupan sehari-hari,” katanya.
Ia juga mengapresiasi peserta yang dinilai telah menjaga nama baik Kota Kupang selama berada di luar daerah. Menurut Christian, peserta Jambore membawa identitas Kota Kupang sehingga sikap tertib dan bertanggung jawab menjadi bagian penting dari perjalanan mereka.
Dalam acara tersebut, Christian mengajak peserta dan undangan mengenang Ketua Kwartir Daerah Gerakan Pramuka NTT, Peter Manuk, yang telah meninggal dunia.
Atas nama Pemerintah dan masyarakat Kota Kupang, Christian menyampaikan duka cita kepada keluarga almarhum. Ia juga mengajak generasi muda meneruskan nilai keteladanan yang ditinggalkan Peter Manuk.
“Hidup manusia tidak ditentukan dari seberapa lama ia ada bersama kita, tetapi dari seberapa banyak kebaikan yang ia tinggalkan. Jabatan punya batas waktu, usia punya batas waktu, tetapi keteladanan tidak memiliki batas waktu,” ujar Christian.
Christian menutup sambutannya dengan meminta peserta menjadikan Jambore sebagai pengalaman yang terus hidup setelah mereka kembali ke rumah.
“Selamat datang kembali. Kalian pulang bukan hanya membawa cerita, tetapi membawa karakter dan pengalaman. Jangan biarkan semuanya berhenti di Jambore. Bawa terus dalam kehidupan sehari-hari,” katanya.
Rp400 Juta untuk Pramuka
Pemerintah Kota Kupang mengalokasikan anggaran Rp400 juta untuk mendukung kegiatan Gerakan Pramuka pada 2026. Anggaran itu terdiri atas Rp150 juta untuk Jambore Daerah, Rp150 juta untuk Jambore Nasional, dan Rp100 juta untuk operasional Kwarcab.
Ketua Kwarcab Gerakan Pramuka Kota Kupang, Wildrian Ronald Otta, mengatakan dukungan pemerintah menjadi motivasi bagi pengurus, pembina dan peserta untuk mengembangkan kegiatan kepramukaan.
Wildrian juga mengapresiasi kehadiran langsung Wali Kota dalam menyambut kepulangan kontingen.
Kwarcab, kata dia, berencana melanjutkan pengembangan fasilitas kepramukaan melalui pembenahan Bumi Perkemahan Fatubena pada 2027.
Pembenahan akan mencakup penataan pelataran dan penyediaan fasilitas dasar, seperti air, toilet dan pagar. Kawasan tersebut diharapkan lebih nyaman untuk kegiatan Pramuka sekaligus dapat dimanfaatkan masyarakat.
Pengelolaan kawasan Bumi Perkemahan Fatubena juga diarahkan agar produktif, sehingga memberikan manfaat ekonomi dan berkontribusi terhadap Pendapatan Asli Daerah Kota Kupang.
Acara penerimaan kontingen dihadiri pendamping, pengurus Kwarcab, Mabigus, pembina, pelatih, orang tua peserta serta sejumlah pimpinan perangkat daerah Pemerintah Kota Kupang.






