
Crimenews.OELAMASI — Pulau Semau tak sekadar menjadi lokasi pertandingan sepak bola. Mulai 4 Oktober hingga 8 November 2026, pulau di Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur, itu bersiap menjadi panggung olahraga yang dipadukan dengan budaya, usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), hiburan, serta pariwisata melalui Lazarus Laiskodat Memorial Cup atau LLMC III 2026.
Bupati Kupang Yosef Lede menyatakan dukungan terhadap penyelenggaraan turnamen yang dipusatkan di Lapangan Lazarus Uitao, Semau. LLMC III tahun ini digelar dengan skala lebih besar dibandingkan edisi sebelumnya.
Sebanyak 24 tim sepak bola dijadwalkan ambil bagian. Total hadiah yang disiapkan panitia mencapai sekitar Rp1,1 miliar. Jika pada LLMC II 2025 turnamen diikuti 16 tim, tahun ini jumlah peserta bertambah menjadi 24 tim.
Namun LLMC III tidak berhenti pada sepak bola. Sejumlah cabang olahraga dan kegiatan lain masuk dalam rangkaian acara, antara lain kejuaraan Shorinji Kempo, tinju open tournament, futsal tingkat sekolah dasar, serta berbagai kegiatan budaya dan UMKM.
Yosef Lede Ingin Semau Tak Sekadar Jadi Lokasi Turnamen
Bagi Pemerintah Kabupaten Kupang, penyelenggaraan LLMC III dapat menjadi pintu masuk untuk memperkenalkan potensi Semau secara lebih luas.
Kehadiran pemain, suporter, keluarga, komunitas olahraga, dan pengunjung dari berbagai daerah berpotensi meningkatkan aktivitas ekonomi sekaligus memperkenalkan alam dan budaya Semau.
Dukungan Yosef terhadap LLMC bukan hal baru. Dalam penyelenggaraan LLMC II pada 2025, Yosef mendorong agar turnamen tersebut dapat berkembang menjadi agenda sepak bola yang lebih terstruktur melalui kolaborasi dengan PSSI Kabupaten Kupang dan PSSI Nusa Tenggara Timur.
Kini, LLMC III hadir dengan konsep yang lebih luas.
Lapangan Lazarus Laiskodat di Semau juga menjadi salah satu fasilitas yang ditonjolkan panitia. Lapangan tersebut disebut menggunakan rumput sintetis berstandar FIFA.
Fasilitas itu diharapkan tidak hanya menjadi tempat pertandingan, tetapi juga memperkuat daya tarik Semau sebagai lokasi penyelenggaraan kegiatan olahraga.
Kempo, Tinju, hingga Futsal Pelajar
LLMC III memberi ruang bagi cabang olahraga lain di luar sepak bola.
Kejuaraan Shorinji Kempo dan tinju open tournament masuk dalam rangkaian acara. Sementara futsal tingkat sekolah dasar menjadi wadah bagi anak-anak untuk merasakan atmosfer kompetisi olahraga.
Konsep tersebut membuat LLMC tidak hanya berbicara tentang perebutan trofi. Ajang ini juga menjadi ruang bagi generasi muda untuk berlatih, berkompetisi, membangun keberanian, dan belajar mengenai sportivitas.
Li Ngae dan UMKM Ikut Mengisi Panggung
Gemuruh pertandingan juga akan diselingi kegiatan budaya. Tarian Li Ngae menjadi salah satu agenda yang disiapkan dalam rangkaian LLMC III.
Kehadiran kesenian tradisional itu memperkuat konsep sport tourism yang hendak dibangun. Pengunjung tidak hanya datang untuk menyaksikan pertandingan, tetapi juga memperoleh kesempatan mengenal identitas budaya masyarakat Semau.
Panitia juga melibatkan lebih dari 30 pelaku UMKM. Mereka akan mendapatkan ruang untuk memasarkan produk selama rangkaian kegiatan berlangsung.
Perputaran orang selama turnamen diharapkan ikut menggerakkan ekonomi masyarakat. Peserta dan penonton membutuhkan makanan, minuman, transportasi, hingga berbagai kebutuhan lain selama berada di Semau.
Semau Dijual sebagai Pengalaman
LLMC III mengusung konsep “Enjoy the Sport – Enjoy the Landscape – Enjoy the Culture.”
Konsep tersebut menempatkan Semau bukan hanya sebagai tempat pertandingan, melainkan sebagai bagian dari pengalaman pengunjung.
Olahraga menjadi pintu masuk. Alam, budaya, dan produk masyarakat menjadi bagian dari pengalaman selama berada di pulau tersebut.
Dengan konsep itu, penyelenggara hendak mengubah cara orang memandang turnamen olahraga: pengunjung tidak hanya datang untuk menonton pertandingan, tetapi juga mengenal Semau.
Bagi pemerintah daerah, momentum semacam ini dapat menjadi bagian dari upaya mengembangkan Semau sebagai kawasan wisata sekaligus mendorong aktivitas ekonomi masyarakat.
Satu Turnamen, Banyak Kepentingan
LLMC III mempertemukan sejumlah agenda dalam satu rangkaian: olahraga mendapatkan panggung, generasi muda memperoleh ruang kompetisi, budaya diperkenalkan, UMKM mendapat pasar, dan pariwisata memperoleh promosi.
Bagi Semau, dampaknya diharapkan tidak berhenti ketika pertandingan terakhir selesai.
LLMC III akan berlangsung selama lebih dari satu bulan, mulai 4 Oktober hingga 8 November 2026. Puluhan tim, atlet dari sejumlah cabang olahraga, pelaku UMKM, serta pengunjung akan berkumpul di pulau tersebut.
Pada akhirnya, trofi memang hanya akan dibawa pulang satu tim. Tetapi bagi Semau, penyelenggaraan LLMC III membawa target yang lebih panjang: menjadikan olahraga sebagai salah satu pintu untuk memperkenalkan potensi alam, budaya, dan ekonomi masyarakat kepada publik yang lebih luas.
LLMC III 2026 bukan sekadar pertandingan sepak bola. Di Semau, olahraga sedang dicoba menjadi pintu masuk menuju pariwisata dan ekonomi lokal.






